
Beberapa hari lalu saya sempat tersenyum sendiri saat naik motor menuju kantor. Ada sebuah billboard brand kopi yang bertuliskan: “Pembangkit Energi Tenaga Biji.” Di Indonesia, tentu kata “biji” bisa dimaknai lebih dari sekadar coffee beans. Brand tersebut tahu persis apa yang dipikirkan orang-orang yang sedang terjebak macet, lalu dengan sengaja memainkan konteks itu. Itulah contoh value proposition yang kuat. Ia memahami nilai produknya, berbicara langsung pada momen yang relevan secara manusiawi, dan meninggalkan kesan yang sulit dilupakan. Tidak mencoba mengatakan semuanya sekaligus. Hanya mengatakan satu hal yang paling penting.
Mengapa Banyak Agency Terjebak Ingin Menjadi Segalanya?
Industri PR dan komunikasi di Indonesia semakin kompetitif. Hari ini, klien tidak lagi mencari agensi yang bisa melakukan semuanya. Mereka mencari partner yang benar-benar memahami tantangan spesifik mereka dan menawarkan sudut pandang yang berbeda. Sayangnya, banyak agensi masih memiliki insting untuk memperluas layanan sebanyak mungkin dan berharap ada yang cocok. Padahal, pendekatan seperti itu jarang membangun hubungan jangka panjang dengan klien. Yang sebenarnya bekerja justru lebih sempit dan lebih sulit: menemukan satu masalah yang benar-benar tidak bisa diselesaikan klien sendirian. Satu “gatal” yang mereka sendiri tidak bisa jangkau.
Mendengarkan Adalah Strategi yang Sebenarnya
Masalah itu hanya bisa ditemukan lewat mendengarkan. Bukan dari satu kali discovery call, tetapi dari percakapan yang berlangsung terus-menerus. Berbicara dengan klien yang sedang berjalan. Berbicara dengan klien lama. Bahkan berbicara dengan brand yang belum pernah bekerja sama dengan kita. Mendengarkan di sini bukan sesuatu yang pasif. Ini adalah proses yang disengaja. Kita mencari pola, frustrasi yang terus muncul, serta jarak antara apa yang dikatakan klien mereka butuhkan dan apa yang sebenarnya mereka kesulitan hadapi. Begitu masalah utamanya ditemukan, di situlah fondasi komunikasi yang kuat mulai terbentuk.
Membangun Ekosistem Komunikasi yang Tepat
Menemukan masalah hanyalah setengah dari pekerjaan. Setengah lainnya adalah membangun solusi yang tepat bersama orang yang tepat. Dalam lanskap komunikasi Indonesia hari ini, hal tersebut berarti memahami bagaimana seluruh ekosistem komunikasi bekerja secara bersamaan.
1) Media Konvensional Membangun Kredibilitas
Media konvensional membangun fondasi kredibilitas sebuah cerita. Ia memberikan legitimasi dan membentuk catatan publik yang dipercaya.
2) Homeless Media/New Media Membuka Percakapan
Homeless media/new media menciptakan percakapan publik. Mereka menjaga isu tetap bergerak dan relevan dalam keseharian audiens.
3) Influencer Memperluas Jangkauan
Influencer membantu memperluas distribusi pesan ke audiens yang lebih besar dengan pendekatan yang terasa lebih dekat dan relatable.
Tidak ada satu lapisan yang bekerja sendirian. Kampanye komunikasi yang kuat bergerak melalui ketiganya, dengan peran yang berbeda di waktu yang tepat.
Timing, Kesabaran, dan Menawarkan Ide Lebih Luas
Bahkan ketika masalah yang tepat sudah ditemukan dan ekosistem komunikasinya sudah jelas, timing tetap memegang peranan penting. Agensi perlu mampu membaca momentum dan siap bergerak ketika peluang muncul. Namun di saat yang sama, kesabaran juga penting. Prioritas brand bisa berubah. Budget bisa bergeser. Keputusan yang terlihat hampir pasti bisa hilang begitu saja. Karena itu, ide tidak boleh hanya ditawarkan ke satu brand. Sebarkan ke banyak pihak yang relevan. Jika satu bergerak maju, itu sudah cukup menjadi fondasi untuk membangun sesuatu yang lebih besar. Jangan menunggu momen sempurna dengan klien yang sempurna. Tawarkan ide ke banyak tempat dan biarkan kecocokan menemukan jalannya sendiri.
Seperti Apa Industri PR yang Bertumbuh Bersama?
Pada akhirnya, tujuan utamanya bukan hanya pertumbuhan agensi semata. Yang lebih penting adalah membangun industri komunikasi yang berkembang bersama, di mana PR agency dan media dapat saling memperkuat peran masing-masing. Dan semuanya dimulai dari kesediaan melakukan pekerjaan yang sering kali tidak terlihat glamor: mendengarkan lebih baik, memahami masalah yang nyata, dan membangun kolaborasi yang mampu bertahan dalam jangka panjang.
Itulah yang membuat sebuah brand di billboard Jakarta terasa membekas. Dan itulah yang membuat sebuah agensi layak diajak bekerja sama kembali.
Onward!
Penulis: Bhayu Sugarda, Associate Director ID COMM



