In this economy, semua orang  sedang berjuang. Ada yang fokus bekerja, ada yang sibuk mencari pekerjaan. Sebagian di antaranya sedang merapikan CV, bikin portofolio, atau upgrade skill. Tapi di balik semua itu, muncul pertanyaan: sebenarnya, mana yang lebih menentukan masa depan—soft skills atau hard skills? 

Keduanya penting! Tapi, porsinya berbeda. Hard skills menjadi bekal utama untuk menyelesaikan tugas dan menunjukkan kompetensi. Hard skills diperlukan untuk memastikan pekerjaan selesai dengan baik. Sementara soft skills membantu seseorang berinteraksi, membangun relasi, dan beradaptasi. Dengan soft skills hasil pekerjaan  dapat diketahui dan disampaikan kepada berbagai pihak, seperti klien, rekan kerja, maupun publik. 

Kedua keahlian ini juga menjadi standar bagi perusahaan menilai seseorang atau kandidatnya. Bagi seorang konsultan komunikasi, keahlian dalam menghasilkan produk-produk komunikasi seperti siaran pers, panduan komunikasi dan artikel, menciptakan dampak melalui kemampuan menganalisa data hingga menciptakan strategi komunikasi membutuhkan hard skill Keahlian ini semakin mudah dikuasai dengan adanya AI dan digitalisasi. Setiap orang yang memiliki akses internet yang memadai akan dengan mudah menemukan akses, kesempatan, dan mempelajari berbagai keahlian ini secara mandiri. 

Hal ini berdampak pada penguasaan soft skill. Terbiasa dalam kondisi yang tersistematisasi membuat seseorang terjebak dalam posisi kurang berempati, beradaptasi, dan bersosialisasi. Padahal, keterampilan unik manusia seperti penilaian, empati, dan kolaborasi sangat berharga. Oleh karena itu, banyak rekruter kini lebih dulu mencari kandidat dengan soft skills kuat, lalu mengembangkan hard skills-nya melalui workshop. Menurut data, 84% karyawan dan manajer mengatakan kandidat baru wajib punya soft skills dan bisa menunjukkannya saat proses rekrutmen [1].  

Tapi tahukah kamu? Di dunia PR atau industri komunikasi, batas antara soft dan hard skills seringkali melebur. Komunikasi, negosiasi, dan keterampilan interpersonal yang biasanya dianggap soft skills justru jadi “hard skills” bagi seorang konsultan komunikasi . Tanpa itu, pekerjaan sehari-hari seperti media pitching, mengelola krisis, atau menjaga hubungan dengan stakeholder tidak akan berjalan efektif. 

Di industri komunikasi yang serba cepat, sering kali muncul pertanyaan: bagaimana dengan lulusan baru yang begitu dominan di ranah hard skills —mahir menulis, riset, dan analisis data— namun masih perlu mengasah soft skills? 

Perjalanan seorang konsultan komunikasi tidak bisa instan. Pada tahap awal, para fresh graduate memang akan lebih banyak berhadapan dengan pekerjaan teknis. Ini adalah fondasi penting yang membantu mereka memahami alur kerja dan detail operasional. Namun, seiring waktu, diperlukan pertumbuhan signifikan dalam kematangan profesional dan kemampuan komunikasi para konsultan komunikasi muda. Begitu indikator ini terlihat, secara bertahap para konsultan muda perlu diberikan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan klien. 

Hard skills adalah tiket masuk, tapi soft skills adalah kunci kesuksesan jangka panjang. Mengapa? Karena di balik setiap press release dan strategi yang brilian, ada kemampuan untuk mendengarkan, berempati, membangun kepercayaan, dan menyampaikan ide dengan cara yang meyakinkan. Ini adalah elemen-elemen yang mengubah seorang eksekutor menjadi seorang penasihat tepercaya. 

Dan yang tak kalah penting, soft skills bukanlah pencapaian sekali seumur hidup. Mereka adalah proses yang terus berkembang. Di industri komunikasi yang dinamis ini, kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan mengimplementasikan hal baru menjadi faktor penentu untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan terus relevan di masa depan. 

Pembahasan ini pernah menjadi diskusi dalam Think Tank, inisiatif internal ID COMM, yang sepakat bahwa  soft skill menjadi kekuatan sebaga seorang konsultan komunikasi. 

[1] https://www.forbes.com/sites/bryanrobinson/2024/04/04/soft-skills-in-the-workplace 

 

Penulis : Alifvia Aisy Kurniawan, Associate ID COMM 

Editor : Dewi Bastina, Senior Manager ID COMM