Industri Public Relations (PR) di Indonesia telah menempuh perjalanan panjang seiring dengan perkembangan lanskap bisnis, konstelasi isu global, semakin beragamnya saluran komunikasi, dan cara publik mengakses informasi. Seluruh dinamika tersebut menjadikan PR sebagai fungsi yang semakin strategis dalam bisnis atau organisasi. Dengan kata lain, fungsi PR telah semakin bergeser ke arah hulu, dimana keputusan strategis terjadi di tahap tersebut.
Salah satu penyebab berubahnya fungsi PR adalah adanya keberadaan media sosial, transformasi digital, dan kecerdasan buatan (AI). Sekarang, PR bisa mendapatkan insight langsung dari target audiens melalui monitoring terhadap percakapan mereka sehari-hari. Secara otomatis, hal ini ikut mengubah cara PR dalam menyusun hingga mengimplementasikan strategi komunikasi. Meski demikian, teknologi ini tidak akan menggantikan peran manusia sepenuhnya.
Untuk mendokumentasikan perjalanan panjang ini, Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia (APPRI) meluncurkan buku “Public Relations di Indonesia dari Masa ke Masa”. Buku ini menjadi tonggak sejarah pertama yang secara komprehensif merekam perkembangan PR di Indonesia, mulai dari masa pra-kemerdekaan hingga era digital. Penyusunannya melibatkan penelitian mendalam dan wawancara dengan lebih dari 60 narasumber yang terdiri dari praktisi kehumasan, akademisi, pejabat, hingga sejarawan.
Dalam peluncurannya, Ketua Umum APPRI, Sari Soegondo, yang juga Co-Founder dan Executive Director ID COMM, menekankan bahwa buku ini adalah penghargaan terhadap kontribusi para praktisi yang membangun fondasi industri PR. “Kami berharap buku ini tidak hanya menjadi referensi penting, tetapi juga pengingat tanggung jawab untuk menjaga integritas dan kualitas komunikasi publik di Indonesia,” ungkapnya. Sementara itu, Asti Putri, Co-Founder ID COMM sekaligus Ketua Bidang Penelitian & Pengembangan APPRI yang menjadi tim utama penyusunan buku ini menyatakan bahwa terbitnya buku ini mencerminkan komitmen ID COMM sebagai salah satu pelaku dalam industri PR yang ingin terus berkontribusi terhadap kemajuan industri dan menaikkan derajat profesi PR di Indonesia.
Terhadap peluncuran buku ini, Laurentius Iwan Pranoto dari Asuransi Astra menyatakan, “Seringkali kita lupa bahwa untuk maju ke depan, kita perlu belajar dari masa lalu.” Buku ini menjadi alat refleksi yang memungkinkan generasi penerus memahami tantangan masa lalu dan menempatkan tantangan masa kini dalam konteks yang relevan. Dengan begitu, perkembangan teknologi dan perubahan lanskap media dapat dihadapi tanpa mengorbankan etika dan standar kerja.
Peluncuran buku ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian kegiatan menuju World Public Relations Forum (WPRF) 2024 yang diadakan di Bali pada November 2024 lalu. Buku ini diharapkan menjadi referensi bagi seluruh praktisi PR di Indonesia, maupun bagi generasi muda yang akan memilih profesi PR sebagai karir masa depan.
Komitmen APPRI dan dukungan dari ID COMM dalam merealisasikan dokumentasi ini menjadi pengingat bahwa PR bukan hanya soal menjaga hubungan, tetapi juga membangun masa depan. Dengan landasan sejarah yang kuat, masa depan PR di Indonesia akan terus berkembang sebagai profesi yang strategis, relevan, dan adaptif terhadap perubahan zaman.



