Kolaborasi antara kuliner dan fashion kini menjadi cara kreatif menghidupkan identitas brand ke dalam medium yang dapat dikenakan. Cheetos, misalnya, pernah meluncurkan koleksi pakaian bersama Forever 21 dengan menampilkan warna oranye khas dan karakter Chester Cheetah pada baju renang, sweatshirt, hingga aksesoris. Di Indonesia, Wakai juga berkolaborasi dengan Coca-Cola melalui sepatu berpalet merah ikonik yang dilengkapi logo khas.
Fenomena serupa kini hadir lewat kolaborasi Bakmi GM, restoran cepat saji yang telah berdiri selama 53 tahun, dengan Mira Hoeng, founder MIWA Pattern. Dari kolaborasi ini lahirlah motif “Double Happiness”, sebagai respons terhadap menurunnya indeks kebahagiaan di Indonesia. Motif tersebut diwujudkan dalam produk gaun, tas, dan aksesoris, dengan hasil penjualan disalurkan bagi penyintas Cornelia de Lange Syndrome (CdLS Indonesia), sebuah kondisi genetik langka.
“Double Happiness” menyampaikan pesan bahwa kuliner dan fashion dapat menjadi sarana merayakan kebersamaan sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial. Motif ini juga merepresentasikan simbol inklusivitas dan empati dari perusahaan.
Dalam implementasinya, kolaborasi ini mengadopsi pendekatan narrative transportation, yakni strategi komunikasi berbasis storytelling yang mengajak audiens larut dalam sebuah cerita. Pendekatan ini terbukti efektif karena mampu membangun keterlibatan emosional, sehingga audiens lebih mudah menerima pesan yang disampaikan.
Melalui sinergi antara kuliner, fashion, dan kepedulian sosial, inisiatif ini menunjukkan bahwa kreativitas dapat menjadi jembatan untuk memperkuat brand dan kreator, sekaligus membuka percakapan sosial yang bermakna.
Dari perspektif komunikasi simbolik, bentuk pangsit dan lekuk bakmi pada motif “Double Happiness” berfungsi sebagai signifier, sementara signified-nya adalah kebahagiaan dan kehangatan saat menyantap hidangan favorit bersama keluarga maupun teman.



