TANTANGAN

Program vaksinasi COVID-19 harus mengadopsi pendekatan inklusif untuk memastikan kelompok rentan, khususnya penyandang disabilitas dan lansia, terlindungi secara setara. Komunikasi satu arah terbukti tidak efektif karena banyak penyandang disabilitas masih disembunyikan oleh keluarganya atau tidak memiliki identitas resmi yang sah secara hukum. Meluasnya misinformasi tentang keamanan vaksin, semakin memperumit upaya penjangkauan terhadap kelompok rentan ini. Strategi komunikasi baru yang melibatkan koordinasi multi-stakeholder sangat penting untuk memastikan akses vaksinasi yang berkeadilan dan membangun kepercayaan publik.

STRATEGI

  • Melakukan pemetaan pemangku kepentingan secara komprehensif untuk mengidentifikasi mitra koalisi lintas sektor – pemerintah, media, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas yang akan menjadi agen perubahan
  • Mengembangkan kerangka komunikasi risiko melalui pelatihan untuk 55 jurnalis guna memastikan pesan berbasis sains yang sesuai budaya
  • Memobilisasi kemitraan pentahelix, media; organisasi disabilitas; pemerintah daerah; sektor swasta; dan akademisi
  • Mengintegrasikan mekanisme evaluasi untuk melacak tingkat vaksinasi dan perubahan sistem secara berkelanjutan di provinsi target

KELUARAN

  • Kampanye komunikasi risiko berhasil mendorong terlaksananya 611 vaksinasi, termasuk 140 penyandang disabilitas di 5 kabupaten di Sulawesi Selatan
  • Koalisi dengan media menghasilkan 186 artikel yang menjangkau lebih dari 5 juta pembaca dengan pesan positif tentang vaksin
  • Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mengadopsi panduan vaksinasi inklusif sebagai protokol wajib yang akan diterapkan secara berkelanjutan
  • Menciptakan model koalisi yang kini diimplementasikan di 24 kabupaten yang tersebar di 4 provinsi target