1. AI semakin dominan digunakan sebagai alat kerja utama PR sehari-hari
- AI menjadi tools dalam proses kerja, mulai dari riset untuk kebutuhan pitching, membaca perkembangan tren, merumuskan profil/persona target sasaran khalayak, membantu fungsi penerjemahan dan tata bahasa, membantu menyusun struktur dokumen, memprediksi isu dan krisis, dan sebagainya.
- Deepfake menciptakan masalah trust secara serius dalam komunikasi atau kampanye kepada publik.
- AI influencers mengaburkan kredibilitas antara manusia dan mesin virtual.
Konsultan PR harus menggunakan AI dengan bijaksana, jujur, dan bertanggung jawab. Sangat berbahaya jika konsultan menyebarluaskan informasi tanpa verifikasi atau validasi dari sumber yang sah karena bisa menyajikan data yang salah dan membentuk pemahaman publik yang kurang tepat.
Selain itu, jangan sampai AI menumpulkan kemampuan konsultan PR untuk berpikir kritis, memakai logika, empati, dan intuisi yang paling relevan untuk mencapai tujuan komunikasi klien.
2. Evolusi media mencapai tahap puncak, terus memaksa transformasi
- Peran media sebagai gatekeeper informasi semakin tersaingi karena banyak brand dan korporasi menciptakan saluran langsung untuk menjangkau konsumen dan stakeholders-nya.
- Media semakin beragam jenisnya: media tradisional yang bertransformasi ke platform online, media baru atau kerap disebut homeless media, atau pun content creator yang menjadi sumber informasi berpengaruh dengan audiens spesifik di segmennya masing-masing. Konten media pun semakin bertaburan dengan bentuk-bentuk non konvesional seperti tulisan pendek, audio, audio visual, maupun konten interaktif.
- Kualifikasi dan kesepakatan tentang tier media menjadi kurang baku karena masing-masing berupaya membangun relevansi dengan target audiensnya secara khusus.
Di tahun-tahun sebelumnya, kemunduran bisnis media sudah terasa di tanah air. Namun, di tahun ini hingga tahun-tahun mendatang, bisa diperkirakan bahwa survival media akan cukup tergantung pada hubungannya dengan praktisi/konsultan PR. Jika dulu, media mainstream ‘dikeroyok’ oleh para praktisi dan konsultan PR untuk dapat memberitakan cerita klien.
Saat ini, media perlu bersikap lebih proaktif untuk bekerjasama dengan praktisi/konsultan PR dan bersama-sama merancang layanan komunikasi terbaik bagi klien. Simbiosis mutualisme baru ini perlu dipelihara dengan baik oleh kedua pihak, sehingga tetap menjadi gatekeeper yang kredibel bagi publik.
3. Audiens semakin tidak peduli pada sumber informasi
- Sudah lama diprediksi bahwa masyarakat dunia (yang sejak terjadinya disrupsi digital) menjadi semakin sulit memproses begitu banyaknya informasi. Kita akan berhadapan dengan audiens yang makin sulit membangun daya pikir kritis, apatis, dan cenderung selintas tidak lagi memperhatikan hal-hal penting sebagai basis untuk pengambilan keputusan dan penentuan sikap mereka.
- Layanan suguhan atau kemasan informasi yang beragam di atas platfrom yang sangat bervariasi di atas demi kreativitas bisnis media, menyebabkan semakin kaburnya sumber informasi. Audiens tidak akan peduli lagi apakah sumber berita adalah pihak kredibel, genuine, dan faktual – ataukah pesan tersebut berbayar, direkayasa secara sengaja, dan fiktif. Kecepatan masih lebih disukai dibandingkan ketepatan.
PR perlu mengasah hati nuraninya lebih tinggi, hendaknya selalu mendasari kerjanya dengan motivasi untuk mengedukasi publik agar menjadi semakin cerdas dalam literasi, dan membantu proses pemahaman informasi agar dapat mematangkan keputusan mereka. Suguhan informasi secara kreatif tentu disarankan, namun prinsip kebenaran dan kehatian-hatian hendaknya selalu menjadi pegangan teguh PR dalam bekerja.
4. Perubahan ukuran keberhasilan PR
- Klien semakin menyadari peran PR bagi bisnis mereka. Untuk itu, tuntutan mereka terhadap konsultan PR semakin tinggi. Salah satu contoh paling utama adalah pengukuran keberhasilan yang tidak berhenti hanya di output (jumlah publikasi pemberitaan, jumlah orang yang terlibat, dan lain-lain), melainkan hingga pada titik outcomes (terciptanya leads untuk bisnis, berubahnya sikap kontra menjadi pro, dan lain-lain).
- Untuk klien yang sedang melakukan penetrasi di pasar Indonesia, PR digandeng sebagai mitra strategis untuk memberikan insights secara berkala dan memperkenalkan mereka kepada profil market yang sesungguhnya di lapangan.
Ke depan, konsultan PR yang akan memiliki usia panjang adalah yang cepat beradaptasi dan membekali dirinya dengan pengetahuan dan jejaring yang luas. Selain itu, konsultan PR juga perlu cerdas menyelami kondisi pasar dan karakter audiens, serta selalu beradaptasi dengan cara-cara baru untuk menggiring klien mencapai tujuan bisnis mereka.
5. Persaingan antar firma komunikasi dan profesi PR akan semakin kompleks
- Sebuah firma komunikasi diharapkan punya karyawan multi talenta, mulai dari memberikan arahan strategis hingga kemampuan teknis dan kreativitas eksekusi program. Untuk memenuhi kebutuhan ini, gabungan dari beberapa konsultan PR dengan expertise berbeda-beda menjadi penentu untuk keberlangsungan bisnis firma tersebut.
- Tim konsultan PR juga diharapkan paham industri klien dengan cepat – dari hulu ke hilir di sektor yang beragam. Mengandalkan diri hanya fokus pada satu sektor, akan memperbesar risiko bisnis jika terjadi guncangan pada sektor tersebut.
- Firma komunikasi lokal akan semakin mengimbangi market share kebutuhan layanan komunikasi di Indonesia. Namun, kerja keras dan konsistensi untuk menjaga kualitas konsultannya akan menentukan apakah firma tersebut akan terus bertahan dan semakin naik kelas.
Kepemimpinan dalam sebuah firma komunikasi menjadi penentu bertahannya bisnis untuk dekade mendatang. Pemimpin firma perlu jeli untuk mempertahankan visi, membaca tren, memelihara dan memperluas network, menjalankan good governance, meningkatkan reputasi secara proporsional, hingga menginternalisasikan value perusahaan sehingga firma bisa menjadi employer of choice.
Hal ini juga berarti keahlian firma tersebut untuk mengombinasikan dan menyelaraskan kerja sama antara karyawan dari berbagai generasi yang memiliki perspektif dan cara kerja, dalam satu kapal bersama.
Selain itu, firma komunikasi juga perlu ikut bertanggungjawab membangun industri profesinya agar tetap tumbuh subur dan relevan dengan zaman. Ibaratnya, sesama pelaku bisnis komunikasi perlu untuk bersinergi dalam menjaga nama baik profesi dan kualitas kerjanya.
Tanpa konsultan komunikasi, apa jadinya dunia yang semakin ‘berisik’ dan ‘penuh fatamorgana’ ini?
Penulis: Asti Putri, Co-Founder dan Director ID COMM
Editor: Sari Soegondo, Co-Founder dan Executive Director ID COMM



