Belakangan ini istilah talent war makin sering terdengar. Perusahaan katanya lagi rebutan talenta terbaik, tapi anehnya banyak fresh graduate dan pencari kerja masih kesulitan dapat pekerjaan, bahkan sekadar dipanggil wawancara pun kadang tidak. Jadi, sebenarnya apa yang terjadi?
Banyak anak muda punya mimpi bekerja sesuai passion. Sayangnya, data menunjukkan hanya sekitar 20% lulusan yang benar-benar bekerja sesuai jurusan kuliahnya. Bahkan lebih dari separuh pekerja saat ini menekuni profesi yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan bidang yang dulu mereka pelajari. Dunia kerja sering kali memaksa kita lebih realistis. Bukan berarti harus menyerah pada mimpi, tapi mungkin langkah awalnya adalah berkompromi, yaitu ambil kesempatan yang ada sambil terus bergerak mendekati passion.
Lalu muncul pertanyaan besar: kalau perusahaan memang butuh banyak orang, kenapa nyari kerja masih susah? Jawabannya terletak pada keterampilan. Perusahaan sekarang tidak hanya mencari “lulusan”, tapi “lulusan yang siap kerja”. Mereka butuh orang dengan keahlian spesifik seperti data analyst, AI specialist, cyber security, atau fintech engineer. Masalahnya, tidak semua pencari kerja punya skill tersebut. Inilah yang menciptakan gap besar antara dunia kampus dan kebutuhan industri.
Belum selesai urusan itu, datang lagi “pemain baru” yang bikin semuanya makin menantang: Artificial Intelligence (AI). Sekarang AI sudah bisa menulis, membuat desain, bahkan menganalisis data dalam hitungan detik. Banyak pekerjaan tradisional berisiko hilang, tapi di sisi lain muncul ratusan juta peluang baru di bidang teknologi.
Meski begitu, penting diingat bahwa AI tidak bisa sepenuhnya menggantikan manusia. Teknologi secanggih apa pun tetap membutuhkan sentuhan manusia dalam hal-hal yang bersifat emosional, etis, dan kreatif. Dalam dunia komunikasi dan Public Relations misalnya, AI bisa membantu menulis siaran pers atau menganalisis sentimen publik, tapi tidak bisa menggantikan kemampuan manusia dalam membangun kepercayaan, memahami opini publik, menenangkan krisis reputasi, dan menciptakan narasi yang menyentuh hati. Empati, kemampuan membaca situasi sosial, serta intuisi dalam memilih kata dan momen yang tepat adalah keterampilan PR yang tak tergantikan mesin.
Dalam dunia kerja modern, perusahaan tetap membutuhkan manusia yang mampu berpikir strategis, berkomunikasi dengan empati, membangun hubungan, serta menciptakan ide-ide baru—sesuatu yang tidak dapat dikerjakan oleh algoritma. Profesional PR menjadi contoh nyata: mereka tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan dan menjaga reputasi dengan kepekaan manusiawi yang tidak bisa diprogram. Jadi, alih-alih takut tergantikan, langkah terbaik adalah beradaptasi dan berkolaborasi: biarkan mesin bekerja cepat, sementara manusia bekerja cerdas dan bermakna.
Penulis: Nurfarizka Anindya, Associate ID COMM
Editor: Tyas Sastradipradja, Associate Director ID COMM



